My Photo
Name:
Location: Medan, Sumatera Utara, Indonesia

Saya seorang pria yang suka tantangan, tetapi tak suka menantang.

Thursday, May 11, 2006

Dibalik Keindahan Medan


Siapa saja yang datang ke Kota Medan tentu akan takjub dengan perkembangannya, dimana menjamurnya plaza serta mal, bahkan tempat jajananan malamnya yang bernuansa moderen seperti merdeka walk yang di buat di pinggiran lapangan merdeka, selain beraneka ragam panganan ditampilkan, nuansa sinaran lampu yang beraneka ragam warna dapat kita nikmati ketika duduk ditempat tersebut plus suara musik yang mendayu.
Tetapi tahukah kita dibalik gemerlap lampu dan menjamurnya plaza yang ada di kota Medan tersebut terselip kesedihan warga kota Medan.
Diakui terlihat sekilas kota Medan sungguh mengundang decak kagum siapa saja yang datang, namun pembangunan dan pemakaian tempat tersebut kabarnya upaya salah satu dari orang nomor satu kota Medan untuk mengeruk keuntungan pribadi (didapat dari berita beberapa media yang ada di Kota Medan).
Caranya, didapat kabar uang hasil kerjasama dengan sistem sewa tempat (BOT) dimana tanah adalah milik negara (lapangan merdeka) disewa pengusaha dengan nilai milyaran rupiah tersebut tidak masuk ke kas pemerintah kota Medan dan penyewaannya tidak tanggung-tanggung kabarnya puluhan tahun.

Dengan alasan tempat tersebut di karyakan untuk menambah income pendapatan daerah dalam pembangunannya sepertinya tidak terbukti dimana siang hari Kota Medan dilihat layaknya seperti pelacur pulang kesiangan, mukanya kusut, rambut acak-acakan dan badan penuh panau dan kurap. Begitu juga Kota Medan, jelas dilihat disana sini, saat siang hari badan jalannya banyak yang berlobang lobang, apalagi agak ke pinggir kota, sungguh menyedihkan.
Bahkan lapangan merdeka yang seharusnya sebagai paru-paru kota sudah tidak terlihat, seperti Ibu Kota Indonesia, Jakarta sang Walikotanya tidak pernah membuat bangunan di daerah Monas sebagai paru-paru kota Jakarta.
Kehijauan seputar lapangan merdeka Medan memudar, yang ada terlihat hanya bangunan.
Ironinya lapangan yang kini telah dikelilingi tempat jualan tersebut, setiap tahunnya 2 kali dipergunakan kaum muslim untuk sholat hari raya Idul Fitri dan Adha sudah tidak memungkinkan.
Tidak itu saja ingatan sejarah tentang tempat tersebut juga seperti akan hilang, dimana dulu dimasa penjajahan, lapangan merdeka tersebut tempat berkumpulnya para pejuang yang bersatu untuk menghancurkan penjajah dari Indonesia khususnya kota Medan.
Mungkin kalau dana tersebut disalurkan kepada kepentingan masyarakat Medan tidak terlalu bermasalah, namun kalau untuk kekayaan pribadi alangkah naifnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home